GIZ Jerman Tertarik Pengelolaan PLT-BG Rantau Sakti Rohul

Kamis, 21 Mei 2015 - 00:00:15 WIB
Share Tweet Google +

Loading...

Metroterkini.com - Pembangkit Listrik Tenaga Bio Gas (PLT-BG) yang berlokasi di Desa Rantau Sakti, Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) merupakan pilot project Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM RI). Pilot project itu dibangun Pemerintah Pusat sejak 2012 silam dan saat ini telah menarik minat dari berbagai kalangan termasuk GIZ dari Jerman.

PLT-BG Rantau Sakti, menggunakan bahan baku limbah cair atau lebih dikenal POME dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Arya Rama Prakarsa telah menarik minat lembaga dari Jerman, Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ).

Pada Kamis (21/5/15), dua perwakilan dari GIZ mengunjungi lokasi PLT-BG Rantau Sakti. Kedua perwakilan ini disambut oleh Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Rohul Drs. Yusmar Yusuf M.Si, Plant Manager PLT-BG Jaya L. Prasetyo, Kades Rantau Sakti Purwadi, dan Mill Manager PT Arya Rama Prakarsa Suriadi.

Lembaga di bawah Menteri Ekonomi Jerman ini telah bekerjasama Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJ EBTKE) dalam Proyek Energising Development Indonesia (EnDev ID). Mereka tertarik dengan sistem pengelolaan PLT-BG Rantau Sakti. Rencananya, mereka akan mereplika pembangkit ini di salah satu daerah di Provinsi Kalimantan Selatan.

Senior Advisor GIZ Robert Schultz, didampingi Advisor EnDev Indonesia Amalia Suryani mengatakan lembaga mereka bergerak di berbagai bidang, seperti pendidikan, sosial, pemantauan korupsi, energi, dan bidang lain.

Robert mengakui GIZ telah berdiri sejak 20 tahun lalu. Jika sebelumnya mereka bergerak di bidang listrik mikro energi, kini mereka tertarik dengan listrik pedesaan. Salah satunya, ketertarikan mereka terhadap PLT-BG atau PLT-Bio Massa.

"Kami tertarik ke sini (mengunjungi PLT-BG Rantau Sakti), untuk mengetahui bagaimana mereka bekerja, dan bagaimana tanggapan masyarakat," kata Robert.

Diakuinya, pihaknya sangat tertarik dengan pengelolaan energi di Indonesia, karena yang mengelolanya anak bangsa sendiri. Dan hal itu cukup membanggakan.

Menurut dirinya, teknologi tidak bisa berdiri sendiri. PLT-BG Rantau Sakti dinilainya berhasil, karena didukung oleh banyak elemen, baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, masyarakat, dan dukungan dari perusahaan perkebunan setempat.

"Teknologi tidak akan pernah sukses tanpa dukungan dari orang-orang di sekelilingnya," tandas Robert.

Sementara, Kepala Distamben Rohul Yusmar Yusuf mengaku bangga, karena apa yang diperbuat telah menarik perhatian banyak pihak dari luar daerah dan luar negeri. Bahkan, mereka bersedia datang ke lokasi PLT-BG Rantau Sakti.

"Harapan kami, mereka (GIZ) tidak sekedar evaluasi dan berkunjung, namun ada suport dalam bentuk finansial, informasi, atau pelatihan yang sifatnya membangun," harap Yusmar.

Menurut Yusmar, PLT-BG Rantau Sakti merupakan pilot project nasional yang sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia. Pembangkit ini, diakuinya, juga membantu perusahaan dan mengurangi biaya pengelolaan limbah, polusi udara, dan pencemaran lingkungan.

"Dari sisi pemerintahan, program berjalan baik. Dari sisi investasi, investor melihat bahwa keamanan di daerah kita cukup. Dan bagi warga, mereka bersyukur mendapatkan pasokan listrik," tandas Yusmar.

Di tempat sama, Plant Manager PLT-BG Rantau Sakti Jaya L. Prasetyo mengatakan GIZ bersedia membantu pengelola mengimplementasikan energi baru terbarukan yang sedang mereka lakukan saat ini. Termasuk, bagaimana menangani manajemen konflik dgn masyarakat.

"Yang pasti tentang mereka (GIZ) ingin tau sistem kerja POME (limbah cair). Kami juga sedang ekspansi ke desa sebelah. Mereka berencana mereplikanya di Kalimantan Selatan," jelas Jaya.

Rencananya, kata Jaya, mereka akan melakukan ekspansi di PKS PT MAN Bangun Jaya untuk membantu penerangan di Desa Payung Sekaki. Pembangunan PLT-BG di PKS PT MAN, akan dibantu oleh MCA (Millenium Challenge Account) for Indonesia.

Sedangkan PT Pasadena bekerjasama dengan United Nations Development Programme (UNDP) atau Badan Program Pembangunan PBB melalui perwakilan di Provinsi Riau, akan membangun pembangkit dengan daya 10 mega watt, namun masih tahap penjajakan dan masih tahap study kelayakan.

Jaya mengungkapkan kini pelanggan PLT-BG Rantau Sakti sekitar 1.547 Kepala Keluarga, dengan tunggakan 10 persen. Dari 1 MW atau 1.000 KW, baru 40 persen daya terpakai atau sekitar 400 watt. Rencananya, mereka akan membangun jaringan tinggi menengah ke Mahato Sakti, namun pada tahap awal baru bisa melayani 200 KK. [**rtc]

loading...

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT