Masyarakat Kaget , Rp70 M Uang PT BLJ untuk Sekolah Pribadi

Rabu, 06 Mei 2015 - 00:00:10 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - Kalangan masyarakat di Kabupaten Bengkalis terperanjat dengan ulah Direktur Utama PT Bumi Laksamana Jaya (BLJ), Yusrizal Andayani dan mantan staf khusus Ari Suryanto yang mempergunakan uang rakyat Bengkalis Rp70 milyar untuk membangun sekolah pribadi di Kota Pekanbaru.

Ini terungkap dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Pekanbaru seperti dirilis sejumlah media. Dimana sebanyak Rp 70 milyar dari Rp 300 milyar dana penyertaan modal Pemkab Bengkalis untuk membangun Pembangkit Tenaga Listrik Gas dan Uap (PLTGU) di Bukitbatu dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di kecamatan Pinggir dipergunakan untuk membuat sekolah pribadi oleh Yusrizal bernama Indonesia Creative School (ICS) di Jalan Arifin Ahmad kota Pekanbaru.  

“Luar biasa kejahatan yang dilakukan mantan Dirut PT BLJ tersebut, mereka mempergunakan uang negara layaknya duit pribadi saja. Padahal semua orang tahu, penyertaan modal Rp 300 milyar yang bersumber dari APBD itu seharusnya dipergunakan membangun pembangkit tenaga listrik. Kok malahan untuk membangun sekolah pribadi di Pekanbaru,” kata Chairil Kennedy ST, tokoh pemuda Tionghoa Bengkalis, Rabu (6/5) dengan nada terkejut.

Menurut pria yang akrab disapa Akuang tersebut, korupsi ditubuh PT BLJ menunjukkan adanya itikat tidak baik dari awal. Ia menduga, penyertaan modal yang diajukan sebesar Rp 300 milyar itu merupakan kejahatan yang awalnya dirancang bersama-sama dengan sistematis, tapi baru diawal perjalanan sudah keburu ketahuan oleh penegak hukum.

Akuang menuturkan, pelaku penyalahgunaan wewenang yang mengakibatkan kerugian negara dalam skala besar itu, harus dihukum seberat-beratnya.

Pihak penegak hukum harus menyeret tersangka lain dalam kasus mega korupsi tersebut, karena dari hasil audit BPK RI ditemukan total kerugian negara mencapai Rp 265 milyar dari total penyertaan modal Rp 300 milyar.

“Pelakunya harus dihukum seberat-beratnya, ia menyalahgunakan wewenang selama menjabat direktur utama dengan mengalihkan uang negara untuk kepentingan pribadi. Kalau mau membangun sekolah, kan sudah ada Dinas Pendidikan di Bengkalis ini, kok malahan membangunnya di Pekanbaru segala,dan tugas PT BLJ bukan mengurus dunia pendidikan,” ujarnya geram.

Kesalahan Stake Holder

Sementara itu, ditempat terpisah, Suhaimi SH ketika diminta komentarnya tentang tindakan Dirut PT BLJ yang terungkap di dalam sidang di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, juga terperanjat.

Menurutnya, tidak masuk akal sehat ada orang yang dengan sangat berani menyalahgunakan uang negara dalam skala besar untuk memperkaya diri maupun kelompok tertentu, melenceng dari planning awal.

Dialihkannya dana penyertaan modal itu untuk pembangunan sekolah Indonesia Creative School sangat tidak patut.

“Saya dapat informasi, Rp 70 milyar dari total penyertaan modal Pemkab Bengkalis disalahgunakan membangun sekolah mewah di Pekanbaru. Berarti sejak awal diajukan dana pernyataan modal itu ke DPRD berupa Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) sudah ada persubahatan. Disini peran eksekutif dan legislatif selaku stake holder di kampung ini, juga telah melakukan kesalahan,” pungkas Suhaimi.

Pria yang juga ketua Gabungan Pengusaha Konstruksi Indonesia (Gapensi) Bengkalis itu, merasa kesal dan kecewa melihat prilaku jajaran manajemen termasuk komisaris maupun kepala daerah dan DPRD Bengkalis. Karena menurutnya, bagaimana mungkin penyertaan modal yang sudah dikunci dengan Peraturan Daerah (Perda) untuk membangun pembangkit listrik, malah disalahgunakan ke sektor lain.

“Kepala Daerah, DPRD, jajaran komisaris dan siapapun yang terlibat dalam kasus tersebut harus mempertaggungjawabkan perbuatannya. Penegak hukum diminta jangan berhenti sampai kepada dua tersangka itu saja, karena kejahatan menggerogoti keuangan negara itu diduga kuat dilakukan bersama-sama,”tegas Suhaimi.

Seperti diketahui, penyertaan modal Pemkab Bengkalis ke PT.BLJ sebesar Rp 300 milyar, ditemukan kerugian negara Rp 265 milyar.

Dimana Yusrizal bersama koleganya menginvestasikan uang rakyat Bengkalis tersebut ke sektor pendidikan, industri otomotif, property dan sektor minyak dan gas (migas).

Padahal tujuan awal disertakannya penyertaan modal itu untuk membangun PLTU dan PLTGU, mengatasi krisis listrik di kabupaten Bengkalis. [rdi]


loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT