Proyek Merangkai Pulau Pemkab Bengkalis Terganjal RTRW

Ahad, 05 April 2015 - 00:00:12 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - Proyek merangkai pulau yang direncanakan Pemerintah Kabupaten Bengkalis terganjal oleh tata ruang tata wilayah (RTRW) Provinsi Riau yang belum tuntas. Akibatnya penetapan lokasi dermaga roll on roll of Ketam Putih (Bengkalis) dengan Dakal (Kabupaten Kepulauan Meranti) terancam batal tahun ini.

Padahal proyek tersebut sudah memasuki studi dan masterplan. Jika RTRW Provinsi Riau tuntas, proyek senilai Rp90 milyar yang akan dibiayai APBN itu tidak akan terealisasi. Sebab, pemerintah pusat baru akan merespon jika perlengkapan administrasi sudah selesai.

"Yang belum pembebasan lahan, karena kita belum tahu apakah yang akan kita tetapkan itu tidak masuk kawasan hutan, dan juga untuk mengindari spikulan tanah. Makanya kita masih menunggu selesainya RTRW," kata Kepala Bidang Darat, Dinas Perhubungan Informasi dan Komunikasi Kabupaten Bengkalis, Eko Wahyono, beberapa hari lalu.

Menurut Eko, untuk pembebasan lahan dibawah 5 hektar merupakan tanggungjawab pemeritah kabupaten. Ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71/2012 tentang penyelenggaraan pengadaan tanah bagi fasilitas umum. Sementara diatas 5 hektar merupakan kewenangan gubernur.

"Diatas 5 hektar kewenangan Gubernur dan dibawah 5 hektar kewenangan bupati atau walikota," kata Eko.

Dijelaskan Eko, jika titiknya sudah ditentukan, pihaknya baru akan membuat surat permohonan ke gubernur Riau tentang penetapan lahan.

Sementara itu, seluruh lahan yang akan sebut Eko adalah lahan milik masyarakat. Tahun anggaran 2015 pihak Dishubkominfo menganggarkan Rp1 milyar.

"Tetapi, semuanmya masih terganjal RTRW," ulang Eko.

Sementara itu, rencana pembangunan dermaga kapal motor roll on roll of (Roro) Pulau Rupat-Prapat Tunggal, Pulau Bengkalis masih tahap studi.

Hal ini dikatakan Kepala Bagian Darat Dinas Perhubungan Informasi dan Komunikasi Kabupaten Bengkalis, Eko Wahyono kepada wartawan beberapa hari lalu di ruang kerjanya.

Menurut Eko, masuknya proyek ini di bidang laut memang banyak jadi pertanyaan, sebab mereka belum paham.

Dalam dunia perhubungan Roro merupakan jembatan bergerak bukan kapal, kendati berlayar dilaut.

"Kalau Roro muat (masuk kenderaan) dan keluar sendiri, makanya disebut juga jembatan bergerak. Sedangkan kapal muat dan bongkar pakai alat bantu," kata Eko. [rdi]

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT