Warga Tebing Tinggi Timur Haramkan HTI PT LUM di Meranti

Jumat, 23 Januari 2015 - 00:00:15 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - Pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan dan Dinas Kehutanan Kabupaten Kepulauan Meranti, Jumat (23/1/15) siang tadi gelar pertemuan negosiasi terkait kisruh PT LUM dengan masyarakat Kecamatan Tebing Tinggi Timur.

Hadir Kepala BPPHP wilayah lll Pekanbaru Ir Rudi Eko M, Kusnadi SHut MSi Kepala seksi PKU Wilayah l Direktorak Bina Usaha Hutan Tanaman, Abdul Razak SHut T MSc penganalisis data PKU Wilayah l Direktorat Bina Usaha Hutan Tanaman, Mama Permana SP, PEH Muda Direktorat Bina Usaha Hutan Tanaman, Taufik Hidayat SHut, PEH Muda Direktorat Bina Usaha Hutan Tanaman.

Rudi Eko mengatakan, pihak Pemerintah Meranti menyadari seperti apa keinginan masyarakat dalam hal kelestarian lingkungan. Kemudian, pihak perusahaan juga sudah berubah dan menyadari bahwa masyarakat tidak menginginkan HTI PT LUM itu.

"Kami kesini guna membicarakan kelanjutan hasil rapat tersebut. Pihak perusahaan juga merubah dari HTI menjadi perkebunan sagu. Perusahaan ingin bermitra dengan masyarakat, dimana tidak ada yang akan dirugikan antara masyarakat dengan perusahaan," kata Eko mewakili Dirjen.

Pernyataan itu bukannya diserap baik, ratusan masyarakat mulai menunjukan amarah dan meneriakan, "tidak ada negosiasi". Mereka tetap ingin izin HTI PT LUM dicabut dan bekas lahan itu dikembalikan ke daerah untuk kepentingan masyarakat banyak.

"Kami ingin izin HTI PT LUM dicabut. Itu harga mati bagi kami, Haram HTI di sini, bagi kami pencabutan izin itulah yang paling kami tunggu-tunggu,"kata warga Tebingtinggi Timur.

Masyarakat yang diwakili seluruh Kepala Desa, tokoh masyarakat itu tidak menginginkan adanya operasional perusahaan manapun di Tebingtinggi Timur. Sebab, perusahaan dinilai sebagai biang terjadinya kebakaran hutan dan lahan seperti yang terjadi di awal tahun 2014 lalu.

"Kanal-kanal yang digali perusahaan merupakan biang kekeringan air. Sifat air selalu mencari tempat yang rendah. Kalau masuk musim kemarau, air semuanya turun ke kanal dan itu yang membuat lahan gambut kita kering hingga melebihi 5 meter. Kalau sudah kering akan mudah timbulnya kebakaran yang menyengsarakan ribuan masyarakat," kata Abdul Manan salah seorang tokoh masyarakat Tebingtinggi Timur, yang kemarin sempat mengirim petisi ke Presiden RI Jokowi.

"Kami minta jangan ada lagi karyawan PT LUM di sini. Tolong habis ini langsung pulang. Kepada karyawan yang lain, kami beri waktu 3 hari untuk meninggalkan daerah kami. Kalau masih bertahan di sini, kami tidak bisa jamin keamanannya," ujar Manan lagi.

Setelah berdialog dengan masyarakat, akhirnya rombongan pulang tanpa membawa hasil pemetaan. Ratusan masyarakat yang hadir waktu itu tetap meneriakan PT LUM harus angkat kaki dari Tebing Tinggi Timur kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. [**rt]

loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT