Sejarah Batu Bacan Dimulai Tahun 1960

Selasa, 06 Januari 2015 - 00:00:04 WIB
Share Tweet Google +

loading...

Metroterkini.com - Meningkatnya pengemar Batu Bacan Nusantara membuat readaksi Metroterkini.com mencoba untuk menguak sejarah batu yang tergolong mahal ini, kita mulai dari tahun ditemukan dan dipopulerkannya dimana Bacan sudah dikenal sejak tahun 1960an.

Sebenarnya Batu akik Jenis Bacan terdapat di pulau Kasiruta bukan pulau Bacan, Halmahera, Maluku, karena pusat pemerintahan terdapat di Labuha, pulau Bacan maka batu tersebut dinamai batu bacan.

Pada masa itu, jenis batu bacan yang digemari masyarakat adalah warna hati hiu, kembang super dan warna biru. Kenapa dikatakan batu bacan warna kembang super,  karena terdiri atas 3-4 warna.

Orang yang menggosok batu bacan pertamakali bernama Muhammad tinggal di desa Amasing, Bacan. Sebelum diperkenalkan Muhammad, batu bacan tidak dihargai semahal seperti sekarang karena dulu tidak ada pembeli lokal dan pembeli dari luar daerah.

Pada saat itu, tidak ada masyarakat yang mau mencari nafkah dengan menambang Batu Bacan (penambang).

"Mata pencaharian masyarakat di pulau Kasiruta sebagai petani yang pergi ke kebun/ mencari damar, kadang mereka menemukan batu bacan di sungai atau erosi  (gunung yang longsor), namun jarang dimanfaatkan," Jelas Pakar batu Pelalawan, mak Itam, Selasa (6/1/15).

Dijelaskannya berdasarkan pengalamannya, petani yang menemukan batu bacan biasanya menukar batu bacan dengan barang-barang sembako. dan pada tahun 1990an batu bacan  berbentuk bongkahan kurang lebih 10 kg dengan jenis super.

"Pertama kali dibeli oleh turis dari Singapura dengan uang ribuan dolar Singapura (yang nilainya ditukar Rupiah  pada masa itu sebesar 7 juta )," Jelasnya.

Nama penjual pertama ini bernama Anongko Golf tinggal di desa Palamea, pulau Kasiruta di sebelah barat. Sekarang desa Palamea sudah  menjadi ibukota kecamatan Bacan Barat.

"Pembelian batu bacan oleh orang singapura dengan harga yang masa itu cukup tinggi itulah yang menyebabkan batu bacan sudah mulai dikenal di kalangan penggemar batu mancanegara," Jelas Itam yang juga pengusaha ini.

Dialanjutnya selesai kerusuhan, sekitar tahun 2005 batu bacan mulai banyak peminat, Pembeli yang sangat berminat dengan batu bacan adalah kalangan dari Suku Tionghoa.

"Mereka membeli batu bacan dengan warna hijau dan biru Warna yang sangat digemari dan sangat mahal adalah warna hijau dan biru itu," Tambahnya.

Batu bacan warna merah juga mereka cari tetapi sangat sulit didapatkan batu bacan warna merah, Mulai tahun 2009 sampai sekarang, pembeli suku Tionghoa dari Jakarta dan Luar Negeri berlomba - lomba datang langsung  membeli bongkahan batu bacan ke lokasi penambangan di pulau Kasiruta dengan harga yang sangat mahal hingga ratusan juta lebih.

"Sekarang ini, bongkahan batu bacan sudah sulit didapat kalaupun ada penambang batu bacan mencarinya bisa berbulan-bulan tidak mendapatkan batu bacan di lokasi tambang tersebut," Tukasnya. (Basya)

Dari daerah mana saja Penambang Batu ini >>> Simak Selanjutnya >>>


loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT