Kisah Pembunuhan Pelayan Bandrek Hinga Pelariannya

Selasa, 02 Desember 2014 - 00:00:02 WIB
Share Tweet Instagram

Metroterkini.com - Kisah percintaan antara gadis cantik pelayan bandrek, Asmawati, Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, tertuang dalam pembicaraan penyidik dengan pelaku, di Mapolres Pelalawan, Senin (1/1/15), dia berkisah sekitar pukul 10.00 Wib pada Jumat (10/11/2014). Kala itu Ramdani tengah sibuk memperbaiki sepeda motornya di salah satu bengkel di kota Pangkalan Kerinci. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke handphone (HP) miliknya.

Dani bergegas mengambil HP yang berdering dari kantong celananya. Pada layar tercantum nama Asmawati. Segera dijawabnya panggilan itu. Di ujung telepon, wanita yang bekerja sebagai penjaga bandrek di Jalan Lintas Timur Pangkalan Kerinci itu, menyuruhnya datang ke kos.

Sibuk perbaiki kendaraan, Dani meminta Asmawati menunggu hingga pekerjaannya selesai. Keduanya terlibat pertengkaran melalui telepon, Rahma minta pertanggung jawaban namuntelpon terputus.

"Sudah satu Minggu kami berantam terus. Karena dia meminta pertanggungjawaban. Katanya anak yang dikandungnya adalah anak saya. Saya tidak terima dan dia marah serta terus memaki-maki saya," tutur Ramdani saat ditemui di Mapolres Pelalawan, mengenang kisah pembunuhan yang dilakukannya terhadap Asmawati.

Satu jam setelahnya, Ramdani mengambil motor Yamaha RX-King yang baru saja selesai diperbaikinya. Karyawan di salah satu perusahaan Sub-Kontraktor PT RAPP itu menuju kamar kos pacarnya tersebut. Memang mereka telah menjalin hubungan sejak bulan Februari lalu.

Sesampai di komplek rumah kos Zaelza di Jalan Melati Pangkalan Kerinci, Dani berjalan menuju kamar perempuan berumur 28 tahun itu. Wanita asal Palembang ini mendiami kamar nomor 04 Menchester City, Kos milik salah seorang anggota Polisi di Pangkalan Kerinci.

Namun saat pintu diketuk beberapa kali, tidak ada jawaban dari dalam. Mengira gadis pujaannya tidak di tempat, Dani memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, sekaligus menunggu Sholat Jum'at.

Ketika bersantap siang, telepon dari Asmawati, kembali datang dan memaksa pelaku, Ramdani, datang ke kosnya.

Lantaran terus didesak tentang pertanggungjawaban janin di kandungan korban, warga Jalan Famili itu menyudahi makan siang dan kembali ke kos korban. Setelah turun dari motor, Dani menuju kamar koban yang terletak di pojok kiri lantai dasar.

Usai mengucapkan salam, pintu dibuka dan pelaku masuk ke dalam. Pertengkaran pun kembali pecah diantara keduanya. Saling mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar serta memukul.

Entah setan apa yang merasuki pikiran Dani, saat melihat sebilah pisau terletak di keranjang yang biasa dipakai korban untuk menyimpan buah, sontak muncul pikiran negatif. Dalam suasana gaduh, pelaku mengambil pisau berwarna silver sepanjang 20 centimeter itu. Tanpa aba-aba, ia langsung menghujamkan benda tajam itu ke leher sebelah kiri korban.

Wanita yang tengah mengandung tiga bulan itu, menjerit kesakitan seiring dengan darah segar yang bercucuran dan muncrat melumuri daster berwana putih yang dipakainya. Asmawati roboh di kamar mandi.

"Saya membalikan tubuhnya dan mengambil bantal untuk membekap kepalanya. Supaya tidak teriak lagi. Setelah ia tidak bergerak, pisau saya cabut dan saya kembalikan ke keranjang buah," tambahnya, sambil meringkukan badannya yang ceking di ruang pemeriksaan Unit I Satreskrim Polres Pelalawan.

Dani keluar dari kamar dengan mengambil ponsel korban dan menutup pintu dari luar dengan kondisi kalap. Tanpa menyadari ada orang yang melihatnya dan mengabadikan dalam kamera HP. Dani menghidupkan sepeda motor dengan nomor polisi BM 6610 CN, melaju kencang menuju SP V Desa Mekar Jaya, Pangkalan Kerinci.

Pelaku sempat menjual telepon korban dengan harga Rp 300 ribu kepada orang yang tak dikenalnya. Bermodalkan uang seadanya, Dani menyetop mobil tujuan Medan untuk melarikan diri dan meninggalkan sepeda motornya di tepi jalan. Pelaku menuju kampung halamannya, meninggalkan masyarakat yang digegerkan dengan kejadian pembunuhan itu.

Usai membunuh kekasihnya, Asmawati, Ramdani berpindah-pindah tempat di sekitar Sumatera Utara dan Aceh selama 10 hari pelariannya.

Hingga anggota Polres Pelalawan yang bekerja sama dengan Polres Aceh Barat berhasil meringkus pelaku di salah satu rumah milik kakek angkatnya pada Kamis (27/11/2014) dini hari. Pelaku dibawa ke Polres Pelalawan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Dani mengaku membunuh korban lantaran sakit hati, terus didesak untuk bertanggung jawab atas kehamilannya. Sedangkan pelaku menyatakan akan menurut permintaan korban, apabila anak di rahimnya lahir dan dilakukan tes DNA untuk memastikan jika jabang bayi itu adalah darah dagingnya sendiri.

Pasalnya, menurut pelaku, banyak pria yang sudah tidur dengan korban, termasuk dirinya yang sudah tiga kali melakukan hubungan suami istri.

"Bahkan dia itu istri sirih orang lain, baru saya tahu. Sebelumnya dia menutup-nutupinya. Bagaimana saya mau bertanggung jawab. Tapi memang saya menyesal pak," tukasnya.

Kepala Satreskrim Polres Pelalawan, AKP Bimo Aryanto, menjelaskan penangkapan terhadap Dani dilakukan atas koordinasi dengan Polda Sumatera Utara dan Polresh Aceh Barat. Pihaknya selama 10 hari berada di Medan membuntuti posisi korban.(jho/bb)

Hantu Pelayan Bandrek Gentayangi Pembunhnya >> Baca


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT