Tradisi 'Bele Kampung' Cara Suku Akit Meranti Minta Keselamatan

Ahad, 30 November 2014 - 00:00:16 WIB
Share Tweet Instagram

Metroterkini.com - Tradisi Bele buat warga kampung Suku Akit Desa Selat Akar di Kecamatan Tasik Putri Puyu, Kabupaten Meranti, Riau selama ini sudah tidak asing lagi, karena tradisi tersebut merupakan ritual untuk memohon keselamatan dari sang pencipta. 

Menurut Tuk bathin, tradisi Bele dilaksanakan selama 3 hari oleh warga kampung suku asli (Akit) di Desa tersebut. "Bele telah berlangsung dalam 3 hari belakangan dan ahad malam ini merupakan malam puncak acara adat itu, yang bertujuan untuk berdoa keselamatan," kata Tuk bathin, Murni yang didampingi puluhan warga suku asli. 

Adat istiadat bele kampung itu sudah ada sejak Indonesia belum merdeka (masih kerajaan Siak, red). Proses bele kampung adalah semacam upaya untuk membersihkan kampung dari marabahaya (bala, red), nasib buruk masyarakat kampung itu. Bele kampung ini dipimpin oleh seorang warga dianggap pandai yang dipanggil dukun. Bele kampung ini pula dilakukan selama tiga hari setiap malamnya.

Malam pertama, dukun yang ditemani seorang bidu, seorang penyampai yang bertugas mengangkat talam dan sesaji, serta 3 tukang musik tradisional (alat musik terbuat dari batang kelapa dan kulit binatang yang diberi nama pebana, red), menggelar pengobatan. Sebelumnya dukun harus terlebih dahulu dimasukkan roh-roh gurunya. Setelah dukun kerasukan roh gurunya, maka dukun ini meminta petunjuk kepada datuk (yang menurut warga setempat ada sekitar 30 datuk, red) bahan-bahan apa saja yang harus dipersiapkan untuk prosesi bele kampung di malam kedua nantinya.

Di malam kedua ini, dukun kembali dimasuki roh-roh gurunya. Namun, tidak lagi untuk mempertanyakan bahan yang harus dipersiapkan. Melainkan dukun ini mempertanyakan bahan-bahan yang telah dipersiapkan itu yang mana saja dibuang ke laut dan yang mana saja dibuang ke darat.

Sedangkan untuk malam mlm terakhir atau malam ketiga, sang dukun kembali dimasuki roh-roh guru, di sini sang dukun bertanya lagi kepada datuk, apakah yang telah mereka siapkan (ancak berupa jongkong di isi sesaji, red) sudah sesuai atau masih perlu diperbaiki.

"Dukun kembali memanggil datuk untuk dicek sesajinya, apakah sudah betul atau tidak, sebelum dilepaskan ke tempat yang sesuai petunjuk dari datuk itu," katanya.

Kemudian, ketika disinggung jika tidak dilakukan ritual ini apa dampaknya bagi kampung, Junaidi mengatakan jangankan untuk tidak dilakukan bele kampung, jika terlambat saja membele kampung, maka mereka akan mendapatkan penyakit atau tanda-tanda yang mengharuskan mereka segera membele kampung.

Jika terlambat melakukan ritual bele kampung ini, beberapa kejadian aneh akan muncul. Seperti wabe (terlihat makhluk-makhluk aneh, namun ketika dicari tidak lagi ditemukan, red), tapak panglime darat (harimau,red) akan diperlihatkan di desa walau Desa Selat Akar tidak ada harimau. Kemudian masyarakat akan banyak terkena sakit-sakitan atau warga setempat mempercayai sebagai angin kotor.

"Kalau di laut biasanya muncul buaya," katanya.

Tradisi ini akan dijadikan Destinasi Wisata Kepulauan Meranti, Raiu dengan tujuan kunjungan di Desa Selat Akar Kecamatan Tasik Putri Puyu. Tim Destinasi yang di ketua Sekretaris Disparpora Kepulauan Meranti, H Ismail Arsyad bersama sejumlah awak media disambut akrab Kepala Desa Selat Akar, Acim dan Tuk bathin, Murni serta puluhan warga suku asli. [***]


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT