Palu Tercemar Merkuri

Ahad, 26 Juni 2011 - 00:45:08 WIB
Share Tweet Google +

loading...

PALU [Metroterkini.com] - Peneliti dari Balifokus, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan, Yuyun Ismawati, menyatakan Kota Palu, Sulawesi Tengah, mulai tercemari oleh limbah merkuri sehingga mengancam kesehatan penduduknya dalam jangka waktu yang panjang.

"Dari air hingga udara Kota Palu sudah tercemari merkuri yang berasal dari pembakaran sampah, asap kendaraan, dan merkuri itu sendiri," kata Yuyun di Palu, Sabtu (25/6).

Yuyun dan sejumlah rekannya dari Balifokus telah melakukan penelitian di beberapa lokasi di Kota Palu selama dua hari. Mereka mendapatkan angka pencemaran merkuri di udara Ibu Kota Sulawesi Tengah itu mulai 20 hingga 5.900 nanogram/m3.

Penggunaan merkuri terbesar di Kota Palu sendiri terdapat di lokasi pertambangan emas tradisional Poboya. Proses pemisahan emas dari batuan halus secara tradisional di pertambangan Poboya dipastikan menggunakan merkuri. Kemudian para pekerja membuang sisa merkuri ke sembarang tempat sehingga menguap.

"Merkuri sangat mudah menguap bahkan di suhu kamar sekalipun (26 derajat Celsius)," kata Yuyun.

Dia mengatakan, di Indonesia hingga saat ini belum ada batasan minimal kandungan merkuri di udara. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga tidak menyebutkan berapa batas aman kandungan merkuri di suatu daerah.

Namun dia mencontohkan, batasan kandungan merkuri udara di Jepang adalah 400 nanogram per m3. Sedangkan di Amerika Serikat mencapai 1.000 nanogram per m3. Jika suatu daerah di negara tersebut terdapat kandungan merkurinya melampaui ambang batas, maka penduduknya harus diungsikan ke daerah aman.

"Oleh karena itu seberapapun kandungan merkuri di Kota Palu perlu diwaspadai demi kelestarian alam dan kesehatan penduduknya," kata Yuyun yang juga Direktur Balifokus ini.

Yuyun menuturkan, kandungan merkuri di udara tidak akan hilang dalam jangka waktu 1,5 tahun meski telah terkena hujan.

Kalaupun hilang, kandungan merkuri itu akan hanyut ke air, kemudian bisa termakan ikan dan akhirnya dikonsumsi manusia. "Itulah yang membahayakan," kata Yuyun yang pernah mendapatkan penghargaan lingkungan bergengsi The Goldman Environtmental Prize pada 2009.

Olehnya, dia meminta pemerintah setempat untuk memperketat izin penjualan merkuri agar lingkungan dan generasi masa depan bangsa dapat diselamatkan.***/mt


loading...

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT