Bocah 15 Tahun Asal Ciledug Berhasil Retas Situs NASA 

Senin, 08 April 2019 - 14:43:52 WIB
Share Tweet Google +

Foto Kompas

Metroterkini.com - Pada saat teman-teman seusianya sibuk bermain game dan menjelajahi media sosial, Putra Aji Adhari, seorang siswa kelas II MTs Manbaul Khair, Ciledug, Tangerang, sudah menemukan ratusan celah keamanan sistem komputer dari berbagai instansi. Namun, anak yang baru berusia 15 tahun tersebut tidak menyalahgunakan keahliannya itu. 

Ia merupakan white hat hacker yang mencari kelemahan sistem, lalu memberitahukannya ke instansi terkait supaya instansi tersebut memperbaikinya. Sejumlah penghargaan telah diterima Putra saat menemukan celah di server berbagai instansi, baik milik pemerintah maupun swasta. 

Dari pemerintah, ia mendapat penghargaan dari Badan Siber dan Sandi Negara, tempat ia biasa melaporkan temuannya tersebut. Sementara itu, dari instansi swasta, ia mendapat penghargaan dari berbagai perusahaan, seperti Tiki, Times Indonesia, Redtech, dan Tokopedia. 

Sertifikat-sertifikat itu dibingkai dan dipajang Putra di atas komputer tempat ia biasa melakukan aktivitas sebagai bug hunter. Terinspirasi Mark Zuckerberg dan Bill Gates Putra mengaku sudah tiga tahun menekuni keahliannya tersebut, tepatnya saat dia masih duduk di kelas VI sekolah dasar. 

Ia belajar melakukan peretasan menggunakan komputer yang dibelikan oleh ayahnya saat ia bersunat. "Dulu waktu sunat penginnya motor mini, tapi ayah bilang mending dibeliin komputer yang jauh lebih bermanfaat ke depannya," kata Putra seperti dilansir dari kompascom, Minggu (7/4/2019). 

Awalnya, ia hanya menggunakan komputer tersebut untuk bermain game dan berselancar di media sosial. Namun, saat menjelajahi dunia digital, ia menemukan sebuah artikel menarik yang dibagikan oleh temannya. Artikel itu berisi kisah sukses dari pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, dan pendiri Microsoft, Bill Gates. Kedua tokoh dunia tersebut kemudian menjadi inspirasi Putra untuk mendalami dunia komputer. 

Bukan berasal dari keluarga yang melek akan teknologi tak menghalangi Putra mengejar impiannya. Ia mengaku belajar secara otodidak dengan bantuan Google dan Youtube. 
Namun, ketika belajar sendiri tak jarang ia menemui kebuntuan yang membuatnya frustrasi. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah komunitas di Facebook yang berisi orang yang jauh lebih berpengalaman dari dirinya. 

"Di komunitas itu kami saling sharing kalau nemu masalah, ada yang enggak ngerti, isinya banyak orang hebat tapi tidak ada yang jadi mentor, semua sama," ujar Putra. 
Setelah cukup ilmu, ia kemudian menggunakan keahliannya tersebut untuk melakukan penetration testing. "Penetration testing itu web kita uji satu-satu, apakah ada bug (celah sistem) yang bisa dimasuki," ucap Putra. 

Dari celah itu, seseorang biasanya bisa melihat dan mengambil data-data yang tersimpan dalam server instansi tersebut. Berbagai situs web sudah pernah dites oleh Putra, mulai dari perusahaan perbankan, e-commerce, hingga situs pemerintah. Meretas situs NASA Satu hal yang paling dibanggakan Putra ialah ketika ia berhasil meretas situs lembaga antariksa Amerika Serikat atau yang biasa dikenal dengan NASA.

"Awalnya dapat informasi dari teman, komunitas yang ngeshare program bug bounty yang diadakan oleh NASA, pas ngeliat ngerasa tertantang, terus coba," ujar Putra. Bukan perkara mudah untuk menembus sistem keamanan dari organisasi yang bertanggung jawab atas penelitian luar angkasa tersebut. 

Putra mengatakan, butuh waktu tiga hari hingga akhirnya ia bisa menemukan celah untuk mengakses server NASA. Dengan celah temuannya itu, seseorang bisa melakukan apa saja terhadap sistem yang dimiliki NASA, mulai dari mengotak-atik isi data, mengganti, hingga mematikan server tersebut. Namun, tak mau terlibat dalam tindak kejahatan, ia kemudian melaporkan temuannya itu kepada admin dari NASA agar temuan itu segera diperbaiki. 

Satu hal yang disayangkan Putra dari organisasi milik pemerintah Amerika Serikat tersebut, ia hanya mendapat ucapan terima kasih melalui email. Tak ada penghargaan berupa sertifikat, plakat, ataupun uang yang diberikan kepadanya. 

Meski begitu, Putra sama sekali tak patah semangat karena ia sadar perbuatannya dapat menjadi amal yang menimbulkan banyak manfaat bagi orang lain. 

Ia juga tak tergoda untuk beralih sebagai black hat hacker yang sejatinya bisa menghasilkan uang berkali-kali lipat. "Kalau black hat memang uangnya lebih gede, tapi kita bisa kena pasal, terus haram juga. Kalau white hat biarpun uangnya dikit, bermanfaat buat orang, menguntungkan dan halal," ujar Putra. [***]