Harga Nikel Diperkirakan Turun Jadi 9.500 Dollar Per Ton

Selasa, 31 Januari 2017 - 00:00:21 WIB
Share Tweet Google +

Metroterkini.com - Bahana Securities menurunkan proyeksi harga nikel dari sekitar 12.500 dollar AS per ton menjadi 9.500 dollar AS per ton. Kebijakan Filipina menghentikan kegiatan tambang 20 perusahaan karena isu lingkungan diperkirakan akan mempengaruhi harga nikel.

Tetapi, kebijakan pemerintah Indonesia merelaksasi aturan ekspor mineral sehingga mendorong produksi lebih tinggi dari permintaan, kemungkinan akan membuat harga nikel jatuh di bawah 10.000 dollar AS per ton, atau bisa turun 16,8 persen dibandingkan harga tertinggi 2016 di level 11.589 dollar AS per ton.

"Akibatnya, Bahana juga merevisi proyeksi untuk saham Vale Indonesia (INCO) yang sebelumnya 'buy' menjadi 'reduce' dengan target harga 2.040," kata Analis Bahana Securities Andrew Franklin Hotama melalui keterangan tertulis, Selasa (31/1/2017).

Sementara itu, untuk PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, Bahana memperkirakan perusahaan berkode saham ANTM ini bakal bisa melakukan ekspor lebih dari 1 juta Wet Metric Ton (WMT) per tahun. Dengan perkiraan itu, ANTM akan mengantongi tambahan keuntungan sekitar Rp 320 miliar.

"Dengan adanya tambahan profit ini, Bahana sedang berhitung kembali untuk target price ANTM yang saat ini sebesar 830," imbuh Andrew.

Tak ketinggalan AKR Corporindo juga bakal memetik keuntungan dari menggeliatnya kembali kegiatan ekspor mineral di Indonesia. "Bahana merekomendasikan beli untuk kode saham AKRA ini dengan target harga 8.000," kata Andrew. [mer-kmc]